Ayah - Andrea Hirata

 


Purnama Kedua Belas

MALAM senyap, tak ada suara kecuali bunyi kafilah-kafilah

angin berembus dari selatan, menampar-nampar atap rumbia, 

menyelisik daun delima, menjatuhkan buah kenari, 

menepis permukaan Danau Merantik, menyapu padang, lalu

terlontar jauh, jauh ke utara. Sesekali burung-burung pipit

yang tidur di gulma terbangun, bercuit-cuit berebut tempat

tidur, lalu senyap lagi.

Meski tersembul di antara gumpal awan April, purnama

kedua belas terang benderang. Begitu terang sehingga Sabari

yang duduk sendiri di beranda, sedih, kesepian, dan merana,

dapat melihat gurat nasib di telapak tangan kirinya. Tangan

kanannya erat menggenggam pensil.

Tak ada yang dapat dipahaminya, telapak tangannya

adalah anak-anak sungai yang tak tentu mana hulu mana hilirnya. 

Sabari terombang-ambing di riaknya, timbul, tenggelam. 

Dibekapnya pensil itu, bunga-bunga ilalang beterbangan

dalam dadanya



Komentar